Berita

Tensi Meningkat, AS Tembak Jatuh Drone Iran di Laut Arab: Ungkap Detail Insiden dan Agenda Negosiasi Nuklir

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran di perairan Laut Arab pada Selasa (3/2/2026). Insiden ini terjadi hanya beberapa hari menjelang jadwal pembicaraan kesepakatan nuklir krusial antara kedua negara yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini.

Insiden Drone Iran di Laut Arab

Sebuah jet tempur F-35C milik kapal induk USS Abraham Lincoln menembak jatuh pesawat tak berawak Shahed-139 milik Iran. Menurut laporan Independent pada Rabu (4/2/2026), drone tersebut bergerak mendekati kapal induk AS secara agresif dengan tujuan yang tidak jelas.

Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat militer AS, menjelaskan bahwa penembakan drone merupakan bentuk pembelaan diri. “Sebuah jet tempur F-35C dari kapal induk Abraham Lincoln menembak jatuh drone Iran sebagai bentuk pembelaan diri dan untuk melindungi kapal induk serta personel di dalamnya,” ujarnya.

Dalam insiden terpisah pada hari yang sama, militer AS juga melaporkan adanya gangguan terhadap kapal dagang berbendera AS yang dikemudikan awak Amerika di Selat Hormuz oleh pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Kapten Hawkins menambahkan bahwa situasi berhasil diredakan berkat dukungan militer AS, memungkinkan kapal tanker melanjutkan perjalanannya dengan selamat.

Pembicaraan Nuklir Tetap Berlanjut

Meskipun terjadi insiden di Laut Arab, Gedung Putih menegaskan bahwa pembicaraan antara AS dan Iran tetap direncanakan berlangsung. Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, membenarkan insiden drone tersebut namun memastikan negosiasi nuklir akan digelar sesuai rencana.

Laporan Axios pada Rabu (4/2/2026) menyebutkan bahwa kedua negara diperkirakan akan menggelar negosiasi nuklir di Oman pada Jumat (6/2/2026) mendatang. Teheran dilaporkan meminta perubahan lokasi pertemuan dari Turki, dan permintaan tersebut telah disetujui oleh Washington.

Utusan khusus AS Steve Witkoff, pejabat luar negeri senior pemerintahan Trump, akan mewakili Gedung Putih dalam pembicaraan tersebut. Witkoff dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Diskusi mengenai kemungkinan keterlibatan negara-negara Arab dan Muslim di kawasan dalam pembicaraan ini masih berlangsung.

Peringatan Trump dan Ketegangan Regional

Presiden Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan potensi konfrontasi jika kesepakatan nuklir tidak tercapai. “Hal-hal buruk kemungkinan akan terjadi jika kesepakatan tidak dapat tercapai,” kata Trump dikutip dari Independent. Pada Senin (2/2/2026), Trump juga mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan Iran, seraya menambahkan, “Kita lihat saja bagaimana hasilnya.”

Leavitt menambahkan bahwa Trump tetap berkomitmen untuk mengutamakan diplomasi, namun selalu memiliki berbagai pilihan yang tersedia, termasuk penggunaan kekuatan militer. Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebelumnya memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap negara itu berpotensi memicu perang regional, sebagaimana dilaporkan BBC pada Rabu (4/2/2026).

Hingga saat ini, Teheran belum memberikan komentar resmi terkait insiden drone yang terjadi. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kesiapan negaranya untuk bernegosiasi dengan AS, asalkan tercipta lingkungan yang sesuai.

Latar Belakang Konflik Nuklir dan Militer

Washington telah berulang kali mengingatkan Teheran mengenai serangan AS tahun lalu yang, menurut Presiden Trump, telah menghancurkan fasilitas pengayaan nuklir Iran. Trump memperingatkan bahwa serangan baru akan jauh lebih buruk daripada operasi udara pada Juni lalu selama perang 12 hari antara Israel dan Iran.

Selama konflik singkat tersebut, militer Israel menargetkan fasilitas nuklir, ilmuwan, komandan militer, dan persenjataan misil Iran. Teheran membalas dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone ke Israel serta menyerang pangkalan udara utama AS di Qatar. Iran tetap bersikeras bahwa program nuklirnya sepenuhnya damai dan membantah upaya pengembangan senjata nuklir.

Informasi lengkap mengenai insiden drone dan agenda pembicaraan nuklir ini disampaikan melalui laporan dari berbagai media internasional seperti Independent, Axios, dan BBC, serta pernyataan resmi dari Gedung Putih dan militer AS.