Thailand kini mendapatkan label sebagai negara sakit di Asia menyusul terjadinya perlambatan tajam pada sektor konsumsi, produksi, hingga pariwisata. Laporan The Nation Thailand pada Senin (9/2/2026) menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang rendah dan penuaan populasi menjadi faktor utama yang memicu perlunya reformasi struktural mendalam.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi dan Tekanan Struktural
Kementerian Keuangan Thailand memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) hanya mencapai 2,2 persen pada tahun 2025 dan diprediksi menurun menjadi 2,0 persen pada 2026. Sejak krisis pandemi Covid-19, capaian tertinggi ekonomi negara ini hanya sebesar 2,6 persen yang tercatat pada tahun 2022.
Angka tersebut menempatkan Thailand di posisi tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara dalam hal pemulihan ekonomi pascapandemi. Selain itu, jumlah penduduk tercatat menurun selama empat tahun berturut-turut dengan tingkat kelahiran tahun 2025 menjadi yang terendah dalam 75 tahun terakhir.
Beban Utang Rumah Tangga dan Penurunan Daya Saing
Masalah struktural lain yang menghambat kemajuan adalah tingginya utang rumah tangga yang kini mendekati angka 90 persen dari PDB. Kondisi ini tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di Asia dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat serta stabilitas ekonomi nasional secara jangka panjang.
Meskipun pada tahun 2011 Bank Dunia sempat mengklasifikasikan Thailand sebagai negara berpendapatan menengah atas, citra tersebut kini mulai memudar. Transformasi dari basis pertanian ke industri yang dulu sukses kini menghadapi tantangan besar akibat melemahnya daya saing global dan kendala struktural yang belum terselesaikan.
Target Politik Versus Realitas Ekonomi
Menjelang periode pemerintahan 2026–2029, sejumlah partai politik menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang cukup ambisius dalam kampanye mereka. Partai Bhumjaithai mengusulkan pertumbuhan tahunan 3 persen, Partai Rakyat 3,5 persen, sementara Pheu Thai mematok angka hingga 5 persen.
Namun, target-target tersebut dinilai kontras dengan proyeksi realistis dari Kementerian Keuangan yang memperkirakan pertumbuhan tetap berada di bawah angka 3 persen pada 2026. Sebelumnya, pemerintahan pimpinan Pheu Thai pada 2023 juga sempat menetapkan target pertumbuhan 5 persen, namun realisasinya tidak memenuhi harapan.
Informasi mengenai kondisi ekonomi dan tantangan struktural ini merujuk pada laporan resmi The Nation Thailand serta data proyeksi yang dirilis oleh Kementerian Keuangan Thailand.
