Finansial

Ungkap Sisi Gelap Armada Bayangan: Ratusan Tanker Minyak Terlantar di Tengah Sanksi Internasional

Advertisement
Opsi Judul:
1. Krisis Pelaut Global: 410 Kapal Tanker Ditinggalkan dan 6.223 Awak Terlantar Sepanjang 2025
2. ITF Soroti Nasib Pelaut di Balik Armada Bayangan: Ribuan Awak Kapal Terjebak Tanpa Gaji
3. Ungkap Sisi Gelap Armada Bayangan: Ratusan Tanker Minyak Terlantar di Tengah Sanksi Internasional

Kondisi memprihatinkan menimpa ratusan pelaut di perairan internasional akibat lonjakan kasus penelantaran kapal tanker minyak sepanjang tahun 2025. Ivan, seorang perwira dek senior asal Rusia, menceritakan pengalamannya terjebak di atas kapal yang memuat 750.000 barel minyak mentah senilai 50 juta dollar AS atau setara Rp841,8 miliar tanpa kepastian logistik dan gaji.

Kapal yang ditumpangi Ivan berlayar dari Timur Jauh Rusia menuju China pada awal November 2025. Namun, kapal tersebut dilaporkan terlantar di luar perairan teritorial China setelah awak kapal mengaku tidak menerima hak mereka selama berbulan-bulan. “Kami kekurangan daging, biji-bijian, ikan, hal-hal sederhana untuk bertahan hidup,” ujar Ivan sebagaimana dikutip dari BBC.

Lonjakan Kasus Penelantaran Kapal Global

Data International Transport Workers’ Federation (ITF) menunjukkan peningkatan drastis jumlah kapal yang ditinggalkan pemiliknya. Pada 2016, tercatat hanya 20 kapal yang ditelantarkan, namun angka ini melonjak tajam menjadi 410 kapal pada 2025. Fenomena ini berdampak langsung pada 6.223 pelaut yang menjadi korban, meningkat hampir sepertiga dibandingkan tahun sebelumnya.

Ketidakstabilan geopolitik, konflik wilayah, hingga gangguan rantai pasok global menjadi faktor pendorong utama. Namun, ITF menilai maraknya armada bayangan atau shadow fleets berkontribusi signifikan terhadap krisis ini. Kapal-kapal tersebut umumnya sudah tua, memiliki kepemilikan yang samar, dan sering kali tidak memiliki asuransi yang memadai.

Praktik Flag of Convenience dan Armada Bayangan

Sebanyak 82 persen dari total kapal yang ditinggalkan pada 2025 berlayar di bawah bendera kemudahan atau Flag of Convenience (FOC). Negara-negara seperti Panama, Liberia, dan Kepulauan Marshall mewakili 46,5 persen dari seluruh kapal niaga global. Belakangan, Gambia juga muncul sebagai pemain baru dengan mendaftarkan 35 tanker minyak pada Maret tahun lalu.

Armada bayangan ini kerap digunakan untuk menghindari sanksi internasional dalam ekspor minyak mentah dari negara-negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela. Kapal yang ditumpangi Ivan sendiri diketahui sempat menggunakan bendera Gambia palsu sebelum akhirnya diterima sementara oleh negara Afrika lain untuk proses penyelidikan resmi.

Advertisement

Dampak Finansial dan Data Korban Pelaut

Berdasarkan data International Maritime Organization (IMO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), total tunggakan gaji pelaut yang ditelantarkan di seluruh dunia mencapai 25,8 juta dollar AS pada tahun lalu. ITF melaporkan telah berhasil memulihkan sekitar 16,5 juta dollar AS dari total tunggakan tersebut untuk dikembalikan kepada para pekerja.

Pelaut asal India menjadi kelompok yang paling terdampak oleh krisis penelantaran ini. Berikut adalah data kewarganegaraan pelaut yang paling banyak menjadi korban sepanjang 2025:

Asal Negara PelautJumlah Korban (Orang)Persentase
India1.12518%
Filipina5398,6%
Suriah3094,9%

Sekretaris Jenderal ITF, Stephen Cotton, menegaskan bahwa penelantaran pelaut bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan dampak dari sistem yang tidak transparan. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Nautilus International, Mark Dickinson, mendesak adanya hubungan nyata antara pemilik kapal dan negara bendera untuk memastikan tanggung jawab hukum terpenuhi.

Informasi lengkap mengenai isu penelantaran pelaut dan armada bayangan ini disampaikan melalui laporan resmi International Transport Workers’ Federation (ITF) dan BBC yang dirilis pada periode Februari 2026.

Advertisement