Victor Calderon, seorang pria berusia 54 tahun, mengalami kejadian luar biasa saat berniat terbang dari Los Angeles menuju Houston, Amerika Serikat. Alih-alih tiba di Texas, ia justru mendarat di Tokyo, Jepang, yang berjarak sekitar 8.800 kilometer dari lokasi asalnya pada Agustus 2025 lalu.
Kronologi Kesalahan Boarding di Bandara
Peristiwa ini bermula ketika Calderon dijadwalkan terbang menuju Houston untuk melanjutkan perjalanan ke Managua, Nikaragua. Saat berada di bandara, ia mengaku sempat berulang kali bertanya kepada staf mengenai arah Gerbang 75A yang tertera pada boarding pass miliknya.
Calderon menjelaskan bahwa saat memasuki pesawat, petugas tiket langsung mengambil dan memindai tiketnya tanpa ada peringatan kesalahan. “Ketika naik ke pesawat, petugas tiket langsung mengambil tiket dan memindainya,” ungkap Calderon dalam wawancara yang dirilis pada Rabu (11/2/2026).
Diketahui, terdapat sejumlah gerbang yang berdekatan di bandara tersebut, termasuk gerbang untuk penerbangan internasional yang berangkat pada waktu bersamaan. Secara kebetulan, nomor kursi 34D yang seharusnya ia tempati menuju Houston juga dalam kondisi kosong pada penerbangan tujuan Tokyo tersebut.
Kecurigaan Selama Penerbangan Berlangsung
Setelah duduk di kursi kelas ekonomi, Calderon segera mengenakan headphone dan mengabaikan pengarahan keselamatan untuk menonton film. Kecurigaan baru muncul dua jam setelah pesawat mengudara, tepatnya saat pramugari menawarkan bantal dan menyajikan makanan berat dengan cita rasa Asia.
“Aneh sekali, biasanya mereka hanya memberi camilan dan minuman soda,” pikirnya saat itu. Setelah enam jam perjalanan, ia mulai gelisah karena pesawat belum juga mendarat. Ia kemudian menyadari bahwa dirinya sedang berada di tengah penerbangan lintas benua menuju Jepang.
Risiko Penahanan dan Proses Pemulangan
Setibanya di Bandara Haneda, Tokyo, Calderon tidak diperbolehkan meninggalkan area bandara. Staf maskapai memperingatkan bahwa ia berisiko ditahan jika keluar tanpa paspor dan dokumen yang sesuai, karena tindakan tersebut dianggap ilegal oleh otoritas setempat.
Calderon mengaku sangat ketakutan atas situasi tersebut. “Saya memikirkan hal terburuk. Mereka akan mengira saya teroris, jadi saya gugup,” ujarnya. Setelah beberapa jam mendarat, ia langsung diterbangkan kembali ke Los Angeles tanpa pernah menginjakkan kaki di luar zona internasional bandara.
Kompensasi dari Pihak United Airlines
Pihak United Airlines telah menyampaikan permohonan maaf secara resmi dan melakukan investigasi internal untuk memahami penyebab insiden tersebut. Maskapai menyarankan agar pelanggan selalu memantau rambu-rambu di gerbang dan pengumuman boarding secara saksama.
Awalnya, Calderon hanya menerima kredit penerbangan sebesar 300 dollar AS. Namun, setelah melalui mediasi oleh unit investigasi konsumen Telemundo 52, maskapai akhirnya meningkatkan kompensasi menjadi total 1.000 dollar AS atau sekitar Rp 16,8 juta dalam bentuk kredit perjalanan.
Informasi lengkap mengenai insiden ini dihimpun dari laporan investigasi konsumen dan pernyataan resmi pihak maskapai yang dipublikasikan pada Februari 2026.
