Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 50 jet tempur canggih ke kawasan Timur Tengah dalam kurun waktu 24 jam terakhir pada Selasa (17/2/2026). Langkah militer besar-besaran ini dilakukan bertepatan dengan momen krusial perundingan program nuklir Iran yang tengah berlangsung di Jenewa, Swiss.
Pengerahan ini mencakup berbagai jenis pesawat tempur tercanggih dalam arsenal militer AS, mulai dari F-35A Lightning II hingga F-22 Raptor. Berdasarkan data pelacakan penerbangan terbuka, gelombang armada udara tersebut terpantau melintasi Samudra Atlantik menuju pangkalan-pangkalan strategis di sekitar Iran.
Detail Pengerahan Kekuatan Udara Amerika Serikat
Laporan dari Axios menyebutkan bahwa militer Amerika Serikat memindahkan lebih dari 50 jet tempur dalam dua hari terakhir. Jenis pesawat yang dikerahkan meliputi F-35A Lightning II, F-22 Raptor, F-16 Fighting Falcon, F-15E Strike Eagle, serta pesawat peringatan dini E-3 Sentry.
Analis intelijen sumber terbuka, Oliver Alexander, mendokumentasikan pergerakan ini melalui transmisi ACARS. Data menunjukkan sejumlah F-35 singgah di Pangkalan Udara Lajes di Azores, Portugal, yang merupakan titik transit utama menuju Eropa dan Timur Tengah.
- Dua belas unit F-22 dari Pangkalan Udara Langley, Virginia, dipindahkan ke RAF Lakenheath di Inggris dengan dukungan tiga tanker KC-46A Pegasus.
- Dua belas unit F-16CJs dari South Carolina menuju Naval Station Rota di Spanyol dikawal oleh enam KC-135R Stratotanker.
- Dua puluh empat unit F-16 dari pangkalan di Italia dan Jerman dikerahkan langsung ke Timur Tengah dengan pengawalan empat KC-135.
Penguatan Armada Laut dan Kapal Induk
Selain kekuatan udara, Washington juga memperkuat kehadiran armada lautnya di kawasan tersebut. Kapal induk terbesar Amerika Serikat, USS Gerald R Ford, dilaporkan telah dikerahkan ke Timur Tengah untuk memperkuat posisi menghadapi potensi eskalasi dengan Iran.
Kehadiran USS Gerald R Ford akan menambah kekuatan yang sudah ada, yakni USS Abraham Lincoln. Kelompok tempur kapal induk ini membawa hampir 80 pesawat dan saat ini berada pada posisi sekitar 700 kilometer dari garis pantai Iran, menempatkan jet tempur F-35 dan F/A-18 dalam jarak serang efektif.
Tenggat Dua Pekan dari Donald Trump
Presiden Donald Trump saat ini tengah mempertimbangkan opsi aksi militer terhadap infrastruktur nuklir Iran. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan bahwa Trump akan mengambil keputusan dalam waktu dua pekan ke depan berdasarkan perkembangan negosiasi.
Leavitt menegaskan bahwa setiap kesepakatan diplomatik harus menjamin Iran tidak dapat memperkaya uranium atau membangun senjata nuklir. Trump dilaporkan telah menggelar rapat intensif dengan tim keamanan nasional di Situation Room Gedung Putih selama tiga hari berturut-turut untuk membahas efektivitas serangan jika diperlukan.
Respons Iran dan Jalannya Perundingan Jenewa
Di pihak lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa kedua pihak telah menyepakati seperangkat prinsip panduan dalam perundingan yang dimediasi oleh Oman. Meski menyebut pertemuan berlangsung konstruktif, Araghchi mengakui bahwa perbedaan posisi masih cukup lebar dan membutuhkan waktu untuk diselesaikan.
Menanggapi pengerahan militer AS, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memberikan peringatan keras. Ia menyatakan bahwa meskipun kapal perang adalah senjata berbahaya, Iran memiliki kemampuan untuk menghadapi ancaman tersebut di lapangan melalui senjata yang mampu melumpuhkan armada laut.
Sebagai bentuk kesiagaan, Iran juga menggelar latihan militer di Selat Hormuz. Aktivitas ini sempat menyebabkan penutupan sebagian jalur pelayaran internasional demi alasan keamanan, yang memicu kekhawatiran pada pasar energi global.
Informasi mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah ini dihimpun berdasarkan laporan resmi dari pejabat pemerintah Amerika Serikat dan pernyataan otoritas Iran yang dirilis pada Februari 2026.
