Finansial

Danantara Targetkan Konsolidasi Reasuransi BUMN Rampung 2028, Pengamat Ingatkan Risiko Dilusi Mandat

Advertisement

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tengah mematangkan rencana konsolidasi tiga perusahaan reasuransi milik negara menjadi satu entitas besar. Langkah strategis ini melibatkan PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re, PT Reasuransi Nasional Indonesia (Nasre), dan PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugu Re) guna memperkuat kapasitas pengelolaan risiko nasional.

Roadmap dan Skema Konsolidasi Reasuransi BUMN

COO Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa penggabungan ini bertujuan untuk menciptakan perusahaan reasuransi nasional dengan skala bisnis yang lebih kompetitif. Namun, ia mengakui adanya kendala pada kondisi fundamental salah satu entitas, yakni Nasre.

“Nasre menghadapi masalah, ini sedang kita tinjau apakah kita lakukan proses likuidasi atau kita merger? Mampu atau tidak?” ujar Dony di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Berdasarkan roadmap yang dipaparkan Indonesia Re sebelumnya, proses konsolidasi dijadwalkan mulai berjalan pada 2026 melalui merger antara Indonesia Re dan Tugu Re. Selanjutnya, pada 2027, entitas tersebut direncanakan bergabung dengan Nasre sehingga seluruh proses rampung pada 2028.

Potensi Penguatan Kapasitas dan Tata Kelola

Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia, Dody Dalimunthe, menilai langkah ini akan mengubah struktur industri asuransi nasional menjadi lebih terkonsolidasi. Menurutnya, entitas baru ini akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat di pasar reasuransi global.

“Entitas besar cenderung diawasi lebih ketat dan memiliki governance framework yang lebih kuat,” kata Dody. Ia menambahkan bahwa konsolidasi ini dapat meningkatkan kapasitas underwriting dan retensi risiko, serta mengurangi duplikasi fungsi operasional.

Advertisement

Risiko Dilusi Mandat Khusus dan Tantangan Integrasi

Meski mendukung penguatan modal, Dody memberikan catatan kritis terkait risiko hilangnya fokus pada mandat khusus. Ia menekankan pentingnya menjaga diferensiasi model bisnis, terutama pada fungsi strategis seperti asuransi kredit ekspor yang dijalankan Asei.

“Fungsi khusus asuransi perdagangan dan kredit ekspor dapat terdilusi dalam entitas general insurance yang lebih besar jika tidak dirancang dengan tepat,” ungkapnya. Selain itu, perbedaan budaya organisasi dan sistem teknologi informasi menjadi tantangan integrasi yang perlu diantisipasi.

Perspektif Persaingan dan Opsi Duopoli

Pengamat asuransi, Irvan Rahardjo, menyoroti dampak negatif dari berkurangnya kompetisi antar-BUMN yang dapat membatasi pilihan konsumen. Ia menyarankan pemerintah mempertimbangkan skema duopoli untuk menjaga kualitas pelayanan melalui persaingan yang sehat.

“Aspek negatifnya, berkurangnya kompetisi di antara BUMN untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Idealnya ada dua perusahaan BUMN yang dapat bersaing satu sama lain,” jelas Irvan. Ia memperkirakan waktu ideal untuk menuntaskan konsolidasi ini adalah sekitar dua hingga tiga tahun.

Informasi mengenai rencana strategis ini merujuk pada pernyataan resmi manajemen BPI Danantara dan paparan roadmap Indonesia Re dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI.

Advertisement