Harga emas dunia diproyeksikan akan terus melanjutkan tren penguatan signifikan hingga akhir tahun 2026. Sejumlah bank investasi global dan lembaga keuangan internasional secara kompak menaikkan target harga logam mulia ini setelah mencetak rekor baru sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Kombinasi faktor struktural seperti pembelian masif oleh bank sentral, ketidakpastian geopolitik, serta pergeseran preferensi investor terhadap aset lindung nilai menjadi pendorong utama. Institusi besar seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, UBS, hingga JPMorgan meyakini emas tetap menjadi aset strategis di tengah dinamika ekonomi global.
Proyeksi Agresif Goldman Sachs dan UBS
Goldman Sachs memperkirakan harga emas dapat menyentuh angka 5.400 dollar AS per ons pada akhir 2026. Dengan asumsi kurs Rp 16.841 per dollar AS, nilai tersebut setara dengan kurang lebih Rp 90,94 juta per ons troi. Angka ini merupakan revisi naik dari estimasi sebelumnya yang berada di level 4.900 dollar AS.
Sementara itu, UBS memberikan proyeksi yang jauh lebih bullish. Bank investasi asal Swiss ini menetapkan target harga emas sebesar 6.200 dollar AS atau sekitar Rp 104,41 juta untuk periode Maret hingga September 2026. Bahkan, dalam skenario paling optimistis, UBS menyebut harga emas berpotensi meroket hingga 7.200 dollar AS atau setara Rp 121,25 juta per ons.
Analisis JPMorgan dan Perbankan Eropa
JPMorgan turut menunjukkan pandangan positif dengan memprediksi harga emas mencapai 6.300 dollar AS per ons atau sekitar Rp 106,10 juta pada pengujung 2026. Analis JPMorgan menekankan bahwa tren diversifikasi cadangan devisa global masih akan berlanjut dan belum mencapai puncaknya.
Senada dengan hal tersebut, Deutsche Bank dan Societe Generale memperkirakan harga emas akan stabil di kisaran 6.000 dollar AS per ons atau setara Rp 101,05 juta. Berikut adalah ringkasan proyeksi harga emas dari berbagai institusi global:
| Institusi | Proyeksi Harga (USD/Ons) | Estimasi (Rupiah) |
|---|---|---|
| UBS (Skenario Optimis) | 7.200 | Rp 121,25 Juta |
| JPMorgan | 6.300 | Rp 106,10 Juta |
| Deutsche Bank | 6.000 | Rp 101,05 Juta |
| Goldman Sachs | 5.400 | Rp 90,94 Juta |
| Morgan Stanley | 4.500 | Rp 75,78 Juta |
Faktor Pendorong dan Risiko Pasar
Para analis sepakat bahwa pembelian oleh bank sentral menjadi faktor struktural yang paling dominan. JPMorgan memperkirakan bank sentral dunia akan memborong sekitar 800 ton emas pada tahun 2026. Selain itu, Goldman Sachs menyoroti bahwa jika 1 persen saja dana swasta di obligasi pemerintah AS dialihkan ke emas, harga bisa melonjak drastis.
- Suku Bunga: Ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed memberikan momentum positif bagi emas.
- Geopolitik: Ketidakpastian situasi global meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
- Kesehatan Fiskal: Kekhawatiran terhadap beban utang negara-negara Barat memicu investor mencari alternatif di luar dollar AS.
Meskipun mayoritas analis bersikap optimistis, UBS mengingatkan adanya risiko penurunan jika kebijakan The Fed berubah menjadi lebih hawkish. Dalam skenario terburuk, harga emas diprediksi bisa terkoreksi ke level 4.600 dollar AS per ons.
Informasi mengenai proyeksi pasar komoditas ini dihimpun berdasarkan laporan riset terbaru dari berbagai lembaga keuangan internasional dan survei analis yang dirilis hingga Februari 2026.
