Finansial

Investasi Emas: World Gold Council Soroti Risiko Fenomena FOMO dan Potensi Koreksi Harga Tajam

Advertisement

Lonjakan harga emas dunia dalam beberapa tahun terakhir menarik perhatian besar dari bank sentral hingga investor ritel di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, di balik statusnya sebagai aset aman (safe haven), muncul fenomena fear of missing out (FOMO) yang memicu kekhawatiran terkait volatilitas dan potensi koreksi harga yang tajam.

Lonjakan Investasi dan Fenomena FOMO

Reli harga emas yang dramatis telah mencatat kenaikan tahunan terbesar sejak 1979, didorong oleh ketegangan geopolitik dan ketidakpastian tarif perdagangan. Data World Gold Council menunjukkan arus masuk ke exchange-traded funds (ETF) berbasis emas mencapai 64 miliar dollar AS, dengan rekor bulanan 17,3 miliar dollar AS pada September 2025.

Laporan Reuters menyebutkan bahwa permintaan investasi dari sektor ritel menjadi faktor krusial yang mendorong harga lebih tinggi saat permintaan perhiasan melambat. Kondisi ini meningkatkan risiko perilaku investasi yang didorong oleh emosi dibandingkan analisis fundamental yang kuat.

Perubahan Karakter Pasar Emas

Fenomena FOMO dinilai telah mengubah karakter pasar emas yang sebelumnya didorong oleh faktor fundamental menjadi lebih spekulatif. Senior Market Strategist World Gold Council, John Reade, menyatakan bahwa sifat reli kini lebih banyak didorong oleh investor Barat dibandingkan pembeli pasar negara berkembang yang biasanya lebih loyal.

Kondisi ini menciptakan sensitivitas tinggi terhadap sentimen pasar jangka pendek. Indikator teknikal seperti Relative Strength Index (RSI) sempat menunjukkan posisi overbought, yang menandakan harga naik terlalu cepat dan rentan terhadap pembalikan arah.

Peringatan Risiko Bubble dan Koreksi

Bank for International Settlements (BIS) memperingatkan adanya tanda-tanda perilaku gelembung (bubble) setelah harga emas naik sekitar 60 persen dalam satu tahun. Keterlibatan investor ritel yang dominan meningkatkan risiko panic selling jika sentimen pasar tiba-tiba berubah negatif.

Advertisement

Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menyebut lonjakan tersebut sebagai reli yang sangat spekulatif dan tidak terkendali. Volatilitas ekstrem ini terlihat saat harga emas mengalami penurunan harian terbesar dalam empat dekade setelah mencapai rekor tertinggi akibat aksi ambil untung.

Dinamika Pasar dan Proyeksi Analis

Analis Macquarie, Alice Fox, memprediksi harga emas akan tetap tinggi namun sangat volatil karena arus dana terus masuk ke pasar yang semakin padat. Di sisi lain, Goldman Sachs memperkirakan harga masih bisa melonjak jika investor swasta terus meningkatkan alokasi portofolio mereka sebagai respons terhadap inflasi.

Meskipun emas tetap menjadi instrumen penting dalam ketidakpastian ekonomi, dinamika psikologis investor saat ini memperbesar risiko pasar. Keputusan yang didasarkan pada ketakutan ketinggalan momentum dapat merugikan investor, terutama bagi mereka yang masuk pada fase puncak harga.

Informasi mengenai dinamika pasar logam mulia ini dihimpun dari laporan resmi World Gold Council dan lembaga keuangan internasional yang dirilis secara berkala.

Advertisement