Masyarakat kini tengah menghadapi fenomena war atau perebutan nomor antrean untuk membeli emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akibat lonjakan permintaan yang tidak sebanding dengan ketersediaan pasokan. Kendala akses sistem daring dan pembatasan kuota harian di butik fisik memicu keluhan konsumen, meski di sisi lain kinerja saham perusahaan diproyeksikan tetap berada dalam tren positif jangka panjang.
Keluhan Konsumen dan Fenomena Perebutan Antrean
Kesulitan mendapatkan emas Antam dirasakan langsung oleh masyarakat, salah satunya Engkos (55), yang mengaku berulang kali gagal mengakses situs resmi perusahaan saat mencoba mengambil nomor antrean. Alih-alih masuk ke laman pembelian, sistem justru terus mengarahkannya kembali ke akun pribadi tanpa hasil.
Menurut Engkos, satu butik Antam umumnya membatasi jumlah pembeli hanya sekitar 40 hingga 50 orang per hari. Kondisi ini mendorongnya untuk mencoba peruntungan di pameran Jakarta International Jewelry Fair (JIJF) di Jakarta International Convention Center (JICC). Namun, pembatasan ketat tetap diberlakukan di lokasi tersebut.
“Iya, sistemnya war gitu. Ya mungkin karena di Antam terlalu sulit link-nya, terus yang nge-war juga semakin bertambah. Sekarang itu, online Antam lagi sulit banget dapat nomor antrean. Makanya begitu ada offline kayak begini, itu jadi orang ramai,” ungkap Engkos pada Sabtu (14/2/2026).
Tanggapan Manajemen Antam Terkait Kendala Pasokan
Corporate Secretary ANTM, Wisnu Haryanto, mengonfirmasi bahwa pembatasan pembelian melalui antrean daring dilakukan karena pasokan emas yang tersedia saat ini belum sebanding dengan lonjakan permintaan masyarakat yang cukup signifikan.
Menyikapi situasi tersebut, Antam tengah menempuh sejumlah langkah strategis untuk menyeimbangkan pasar. Perusahaan berfokus pada peningkatan pasokan melalui kolaborasi dengan mitra strategis di dalam negeri serta melakukan pemerataan distribusi ke seluruh wilayah Indonesia.
“Antam terus berupaya meningkatkan pasokan emas, khususnya dari dalam negeri, melalui penguatan kolaborasi dengan mitra strategis agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara lebih optimal,” jelas Wisnu.
Prospek Saham ANTM dan Analisis Pasar
Di tengah tingginya minat ritel terhadap logam mulia, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai saham ANTM masih berada dalam fase major uptrend. Berdasarkan analisis per 12 Februari 2026, terdapat tiga target kenaikan harga yang diproyeksikan bagi emiten pelat merah ini.
- Target Pertama (TP1): Rp 4.160 (potensi naik 4,26 persen).
- Target Kedua (TP2): Rp 5.000 (potensi naik 25,31 persen).
- Target Ketiga (TP3): Rp 5.725 (potensi naik 43,48 persen).
Nafan merekomendasikan strategi marginal buy dengan area entry di sekitar Rp 3.910 hingga Rp 4.110. Area support kuat diidentifikasi berada pada level Rp 3.910 dan Rp 3.610 sebagai batas pengamanan risiko.
Katalis Fundamental dan Dampak Hilirisasi
Secara fundamental, margin laba divisi pemurnian logam mulia ANTM diprediksi menguat pada kuartal I 2026, didorong oleh harga emas global yang stabil di atas 5.000 dollar AS per ons akibat ketidakpastian geopolitik. Selain itu, dominasi pangsa pasar ritel melalui jaringan butik emas memberikan arus kas yang likuid bagi perseroan.
Kebijakan pemerintah yang memperketat ekspor bahan mentah juga dinilai menguntungkan ANTM karena perusahaan telah memiliki infrastruktur hilirisasi yang mapan, termasuk fasilitas smelter feronikel. Struktur bisnis yang terintegrasi ini membuat perseroan lebih tangguh menghadapi dinamika pasar global.
Informasi mengenai perkembangan operasional dan kinerja pasar modal ini dihimpun berdasarkan pernyataan resmi manajemen PT Aneka Tambang Tbk serta laporan analisis pasar sekuritas per Februari 2026.
