Thailand, yang selama hampir dua abad menjadi sekutu tertua Amerika Serikat di Asia Tenggara, kini menunjukkan pergeseran geopolitik yang signifikan. Sebagai negara dengan status sekutu utama non-NATO, Bangkok mulai menarik diri dari orbit pengaruh Washington dan semakin mendekat ke arah Beijing.
Penurunan Kepercayaan Terhadap Keamanan Amerika Serikat
Berdasarkan data terbaru dari Anatomy of Choice Alignment Index (AOCAI) 2025, terjadi pergeseran radikal dalam keselarasan kebijakan di kalangan elit Thailand. Kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan utama di kawasan merosot tajam ke angka 32 persen, turun drastis dari capaian di atas 50 persen pada tahun-tahun sebelumnya.
Kelelahan diplomatik menjadi salah satu pemicu utama kondisi ini. Thailand menilai tuntutan nilai-nilai demokrasi yang dipaksakan Washington tidak dibarengi dengan insentif ekonomi yang sepadan. Sebaliknya, Tiongkok hadir dengan pendekatan non-intervensi dan dukungan finansial yang lebih pragmatis bagi elit penguasa.
Dominasi Teknologi dan Infrastruktur Tiongkok
Realisme ekonomi menjadi motor penggerak utama di balik kemesraan Bangkok dan Beijing. Tiongkok tidak hanya membawa investasi, tetapi juga mengunci Thailand dalam ekosistem teknologi mereka melalui berbagai proyek strategis.
- Sekitar 68 persen proyek infrastruktur strategis di Thailand kini mengadopsi standar teknis Tiongkok.
- Investasi langsung (FDI) Tiongkok di sektor kendaraan listrik (EV) dan pembangunan pusat data tumbuh sebesar 42 persen secara tahunan.
- Implementasi protokol pertukaran data 5G dan sistem persinyalan kereta cepat sepenuhnya menggunakan standar Beijing.
Kondisi ini menciptakan ketergantungan jalur (path dependency) yang membuat biaya untuk beralih kembali ke standar Barat menjadi sangat mahal dan tidak efisien secara teknis bagi pemerintah Thailand.
Potensi Efek Domino dan Perpecahan ASEAN
Pergeseran posisi Thailand dikhawatirkan akan memicu efek domino bagi negara-negara di daratan Asia Tenggara lainnya seperti Laos, Kamboja, dan Myanmar. Jika Thailand sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di ASEAN telah terintegrasi dalam ekosistem Tiongkok, negara tetangga cenderung akan mengikuti langkah serupa demi kelancaran logistik regional.
Fenomena ini juga mengancam sentralitas ASEAN, dengan potensi munculnya blok yang terbelah secara geografis. Sementara negara kepulauan seperti Filipina dan Indonesia mungkin tetap condong ke Washington untuk keamanan maritim, daratan Asia Tenggara berisiko bertransformasi menjadi wilayah pengaruh utama Beijing.
Analisis mengenai dinamika geopolitik dan pergeseran keselarasan strategis di kawasan ini merujuk pada laporan resmi Anatomy of Choice Alignment Index (AOCAI) edisi tahun 2025.
