Gelombang perpindahan domisili para miliarder dunia semakin masif dalam setahun terakhir sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian politik dan perubahan kebijakan. Fenomena ini mencerminkan kesadaran baru di kalangan individu super kaya bahwa kebijakan pemerintah dapat berubah dengan cepat dan sulit diprediksi, sehingga relokasi kini menjadi bagian dari strategi manajemen risiko yurisdiksi.
Strategi Manajemen Risiko dan Mobilitas Global
Berdasarkan data dari Deepesh Agarwal, salah satu pendiri perusahaan penasihat mobilitas Farro & Co., keluarga kaya saat ini merencanakan pilihan tempat tinggal mereka dengan jauh lebih hati-hati. Hal ini disebabkan oleh lingkungan politik dan peraturan yang dapat berubah sewaktu-waktu. Tren tersebut diperkuat oleh survei bank Swiss UBS terhadap 87 klien miliarder, yang menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga responden telah pindah ke negara baru setidaknya sekali pada tahun 2025.
Relokasi ini bahkan lebih dominan di kalangan miliarder berusia di bawah 55 tahun. Data menunjukkan hampir separuh dari kelompok usia tersebut telah mengganti negara domisili dalam setahun terakhir. Selain itu, Henley & Partners mencatat peningkatan volume permohonan program residensi dan kewarganegaraan hingga hampir 30 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan pertanyaan yang datang dari lebih dari 200 kewarganegaraan sepanjang 2025.
Dampak Kebijakan Pajak dan Geopolitik
Perubahan kebijakan di negara-negara ekonomi besar menjadi pemicu utama arus keluar kekayaan. Salah satu contoh signifikan adalah keputusan Inggris untuk mengakhiri rezim pajak non-domisili pada April 2025. Reformasi ini diperkirakan memicu eksodus penduduk kaya yang membawa aset senilai puluhan miliar dollar AS. Di Amerika Serikat, survei juga mencatat peningkatan warga yang mempertimbangkan untuk melepas kewarganegaraan akibat ketidakpuasan terhadap arah politik.
Para ahli menilai faktor geopolitik, stabilitas hukum, netralitas politik, dan kekuatan institusi menjadi pertimbangan utama sebelum keluarga kaya memilih negara tujuan. Laporan Henley Private Wealth Migration Report 2025 memperkirakan sekitar 142.000 jutawan akan berpindah negara sepanjang tahun tersebut, dengan proyeksi angka yang terus meningkat pada 2026. Inggris, China, India, dan Korea Selatan diprediksi menjadi negara dengan arus keluar terbesar.
Destinasi Favorit dan Daftar Orang Terkaya Dunia
Arus migrasi kekayaan global saat ini terkonsentrasi di sejumlah wilayah strategis. Uni Emirat Arab muncul sebagai tujuan utama berkat kebijakan pajak penghasilan pribadi nol persen dan skema Visa Emas. Di Asia, Singapura menonjol karena kekuatan regulasi dan infrastruktur finansialnya. Sementara itu, negara-negara Eropa seperti Portugal, Yunani, Italia, Monako, dan Swiss tetap menjadi pilihan populer karena stabilitas jangka panjang dan program residensi investasi.
Di tengah mobilitas global yang tinggi, posisi individu terkaya di dunia masih didominasi oleh nama-nama besar. Berdasarkan data Forbes per 12 Februari 2026, berikut adalah daftar 10 orang terkaya di dunia:
| Peringkat | Nama Tokoh | Kekayaan (USD) |
|---|---|---|
| 1 | Elon Musk | 857 Miliar |
| 2 | Larry Page | 255,2 Miliar |
| 3 | Sergey Brin | Data Forbes |
| 4 | Mark Zuckerberg | Data Forbes |
| 5 | Jeff Bezos | Data Forbes |
| 6 | Larry Ellison | Data Forbes |
| 7 | Jensen Huang | Data Forbes |
| 8 | Bernard Arnault | Data Forbes |
| 9 | Amancio Ortega | Data Forbes |
| 10 | Warren Buffett | Data Forbes |
Informasi lengkap mengenai tren migrasi kekayaan dan daftar kekayaan global ini dihimpun berdasarkan laporan resmi dari Business Standard, survei UBS, serta data real-time dari Forbes yang dirilis pada Februari 2026.
