Tren perpindahan tempat tinggal para miliarder dunia mengalami peningkatan signifikan sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026. Fenomena ini dipicu oleh ketidakpastian politik, perubahan kebijakan pemerintah, serta kekhawatiran terhadap aspek keamanan di berbagai negara asal para taipan tersebut.
Berdasarkan survei terbaru dari bank Swiss UBS terhadap 87 klien miliarder, lebih dari sepertiga responden telah berpindah negara setidaknya satu kali pada tahun 2025. Tren ini terlihat lebih kuat pada kelompok miliarder muda di bawah usia 55 tahun, di mana hampir separuh dari mereka telah mengubah domisili dalam setahun terakhir.
Faktor Risiko Politik dan Perubahan Kebijakan Pajak
Para penasihat keuangan menyebutkan bahwa relokasi ini mencerminkan kesadaran para orang kaya terhadap risiko yurisdiksi yang dapat berubah sewaktu-waktu. Deepesh Agarwal, salah satu pendiri Farro & Co., menjelaskan bahwa keluarga kaya kini merencanakan pilihan tempat tinggal dengan lebih hati-hati karena lingkungan regulasi yang dinamis.
Data dari Henley & Partners memperkuat temuan ini dengan mencatat lonjakan permohonan program residensi dan kewarganegaraan hingga 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu pemicu utama di Eropa adalah keputusan Inggris untuk mengakhiri rezim pajak non-domisili pada April 2025, yang memicu eksodus ribuan jutawan beserta aset senilai puluhan miliar dolar.
Destinasi Favorit: Uni Emirat Arab hingga Singapura
Meskipun migrasi terjadi secara global, konsentrasi kekayaan baru terlihat menumpuk di beberapa wilayah strategis. Berikut adalah beberapa negara yang menjadi tujuan utama para miliarder:
- Uni Emirat Arab (UEA): Menjadi penerima manfaat terbesar berkat kebijakan pajak penghasilan nol persen dan sistem Visa Emas yang fleksibel.
- Singapura: Menjadi pilihan utama bagi keluarga kaya asal Asia yang memprioritaskan stabilitas regulasi dan infrastruktur keuangan.
- Eropa: Portugal, Yunani, Italia, Monako, dan Swiss tetap populer karena menawarkan program investasi serta kepastian hukum jangka panjang.
- Destinasi Baru: Arab Saudi melalui program Premium Residency dan sejumlah negara Karibia mulai dilirik sebagai strategi mobilitas tambahan.
Proyeksi Migrasi 2026 dan Dominasi Elon Musk
Laporan Henley Private Wealth Migration Report memproyeksikan sekitar 142.000 jutawan akan berpindah lintas batas sepanjang tahun 2026. Sementara UEA mencatat arus masuk tertinggi, negara-negara seperti Inggris, China, India, dan Korea Selatan diperkirakan akan mengalami arus keluar jutawan terbesar.
Di tengah masifnya perpindahan aset ini, daftar orang terkaya di dunia per Februari 2026 masih didominasi oleh tokoh-tokoh teknologi. Data Forbes Real-Time Billionaires mencatat Elon Musk tetap berada di posisi puncak dengan kekayaan mencapai 857 miliar dollar AS atau setara Rp 14.405 triliun.
Posisi kedua ditempati oleh Larry Page dengan kekayaan 255,2 miliar dollar AS. Nama-nama besar lainnya yang mengisi daftar sepuluh besar antara lain Sergey Brin, Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, Larry Ellison, Jensen Huang, Bernard Arnault, Amancio Ortega, dan Warren Buffet.
Informasi mengenai tren migrasi kekayaan dan daftar miliarder dunia ini dihimpun dari laporan resmi UBS, Henley & Partners, serta data real-time Forbes hingga Februari 2026.
