Waspada Ancaman Senyap Virus Nipah: Tingkat Kematian Tinggi dan Potensi Krisis Ekologi Sosial di Indonesia
Wabah virus Nipah yang mematikan di India kembali memicu kekhawatiran global, mendorong sejumlah negara Asia memperketat pemeriksaan kesehatan di pintu masuk internasional. Thailand, misalnya, telah memberlakukan pemeriksaan penumpang di tiga bandara yang menerima penerbangan dari wilayah Benggala Barat, India. Langkah serupa juga dilakukan Nepal dengan memperketat pemeriksaan kedatangan di Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu, serta di sejumlah titik perbatasan darat dengan India. Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan bahwa hingga pertengahan Januari 2026 belum ditemukan kasus konfirmasi virus Nipah pada manusia di Indonesia. Meski demikian, pemantauan dilakukan secara aktif melalui sistem surveilans penyakit infeksi emerging, terutama di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan, serta di fasilitas pelayanan kesehatan.
Bahaya Virus Nipah dan Klasifikasi WHO
Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui babi dan kelelawar buah. Penularan juga dapat terjadi antarmanusia, termasuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Dilansir dari BBC pada Selasa (27/1/2026), virus ini dikenal sangat mematikan dengan tingkat kematian berkisar antara 40 hingga 75 persen.
Karena tingkat fatalitasnya yang tinggi dan potensi menimbulkan wabah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan virus Nipah ke dalam daftar 10 penyakit prioritas global. Patogen ini sejajar dengan virus berbahaya lainnya seperti Covid-19 dan Zika.
Masa inkubasi virus Nipah umumnya berkisar antara empat hingga 14 hari. Orang yang terinfeksi dapat mengalami berbagai gejala, meskipun dalam beberapa kasus tidak menunjukkan gejala sama sekali. Gejala awal biasanya berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Pada kondisi tertentu, gejala dapat berkembang menjadi gangguan kesadaran, rasa kantuk berlebihan, pneumonia, hingga peradangan otak atau ensefalitis. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk mengobati penyakit tersebut.
Nipah sebagai Penyakit Ekologi Sosial
Pakar epidemiologi dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman, menilai virus Nipah bukan hanya ancaman medis, melainkan juga masalah ekologi dan sosial yang kompleks. “Nipah ini bukan sekadar penyakit menular biasa, tetapi penyakit ekologi sosial,” kata Dicky saat dihubungi Kompas.com pada Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, virus Nipah menjadi contoh sentinel disease dalam krisis One Health, yakni kondisi ketika kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan seharusnya berjalan seimbang, namun justru terganggu akibat aktivitas manusia. “Ini adalah alarm bahwa hubungan manusia dengan lingkungan sudah tidak harmonis. Perubahan ekosistem, deforestasi, urbanisasi, dan perilaku manusia yang tidak sehat saling berinteraksi dan memunculkan penyakit seperti Nipah,” ujarnya.
Menurut Dicky, berbagai faktor turut memperbesar risiko penyebaran virus ini. Faktor-faktor tersebut meliputi pola konsumsi yang buruk, rendahnya keamanan pangan, lemahnya biosekuriti peternakan, tingginya mobilitas manusia, hingga sistem kesehatan yang belum kuat. Ia juga menegaskan bahwa potensi Nipah tidak hanya terbatas di India atau Bangladesh, sebab Indonesia pun memiliki risiko mengingat keberadaan kelelawar buah sebagai reservoir alami virus tersebut tersebar di banyak wilayah.
“Nipah ini sering berbahaya karena sifatnya senyap. Banyak infeksi tidak terdeteksi sejak awal,” kata Dicky. Ia menambahkan, gejala awal Nipah yang tidak spesifik, mirip flu, tifoid, atau demam berdarah, kerap membuat diagnosis terlambat. Padahal, keterlambatan penanganan dapat berdampak fatal. “Risiko terbesar Nipah bukan ledakan kasus besar, tetapi wabah kecil yang mematikan,” ujarnya.
Dicky mengingatkan bahwa meskipun penularan antarmanusia tidak terlalu efisien, dampaknya tetap berbahaya. Bahkan, rumah sakit dapat menjadi amplifier atau penguat penularan. “Hampir semua kluster besar Nipah di India dan Bangladesh bermula dari pasien yang tidak teridentifikasi, lalu menulari keluarga dan tenaga kesehatan,” jelasnya. Tingginya angka kematian virus Nipah, lanjut Dicky, disebabkan belum adanya vaksin atau antivirus spesifik. Virus ini menyerang otak dan menyebabkan ensefalitis yang sulit ditangani. “Bahkan pasien yang sembuh bisa mengalami gangguan neurologis jangka panjang atau kekambuhan,” katanya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan munculnya penyakit serupa di masa depan, Dicky menjawab tegas, “Iya, dan bisa lebih dari satu.” Ia menjelaskan, Nipah merupakan bagian dari ancaman besar virus zoonotik, seperti virus Hendra di Australia atau Henipavirus lain yang ditemukan pada kelelawar di Asia dan Afrika. “Ancaman terbesar ke depan justru Nipah-like diseases, yakni virus dengan fatalitas sedang hingga tinggi, penularan antarmanusia yang sedikit lebih efisien, dan gejala awal yang tidak khas,” ujar dia. Kombinasi tersebut berpotensi merusak sistem pelayanan kesehatan dan memicu kepanikan jika tidak diantisipasi dengan baik.
Risiko Penyebaran Nipah di Indonesia
Terkait Indonesia, Dicky menyebut risiko Nipah tetap ada, terutama karena sistem surveilans yang masih lemah. “Indonesia ini tidak bebas risiko, tetapi juga bukan negara nol day Nipah. Faktanya, kita memang belum pernah melaporkan kasus Nipah pada manusia,” katanya. Namun, keberadaan kelelawar Pteropus di berbagai wilayah Indonesia, tingginya interaksi manusia dengan satwa, serta kerusakan hutan dan perubahan tata guna lahan yang masif menjadi kombinasi berbahaya. “Tiga faktor ini bersatu dan menjadi bom waktu. Tinggal menunggu saja,” ujar Dicky.
Ia menekankan bahwa belum adanya laporan kasus bukan berarti virus tersebut tidak ada. Pasalnya, risiko utama justru berasal dari kurangnya deteksi dini. “Banyak kasus ensefalitis virus tidak diuji secara spesifik, sehingga penyebabnya sering tidak diketahui,” katanya. Selain itu, kesiapan rumah sakit dalam pencegahan dan pengendalian infeksi dinilai masih reaktif. Keterbatasan alat pelindung diri dan fasilitas isolasi, terutama di daerah, juga menjadi tantangan serius.
Menanggapi kekhawatiran soal penularan dari India, Dicky menilai risiko impor kasus sangat kecil. “Pengetatan pintu masuk seperti skrining gejala dan riwayat paparan sudah cukup, asalkan tidak menimbulkan kepanikan,” ujarnya. Ia kembali menegaskan bahwa ancaman terbesar justru berasal dari kasus lokal yang tidak terdeteksi. Meskipun peluang Nipah memicu pandemi global seperti Covid-19 dinilai kecil, krisis kesehatan regional tetap mungkin terjadi. “Nipah ini bukan isu jauh di India. Ini cermin kerentanan sistem kesehatan kita,” tegas Dicky. Ia pun mengingatkan bahwa ancaman kesehatan ke depan bukan hanya satu virus, melainkan pola berulang spillover zoonotik pada sistem kesehatan yang belum siap.
Informasi mendalam mengenai ancaman virus Nipah dan kerentanan sistem kesehatan ini disampaikan oleh pakar epidemiologi Dicky Budiman, serta merujuk pada data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI.